Rabu, 12 Juli 2017 09:07

Membongkar Hoax Seputar Pembacokan Hermansyah, Siapa Ambil Keuntungan? Featured

Membongkar Hoax Seputar Pembacokan Hermansyah, Siapa Ambil Keuntungan? Hermansyah

PROKLAMASI.co.id - Sejak insiden pembacokan terhadap ahli IT alumnus ITB Hermansyah pada Minggu (9/7/2017), beredar secara massif hoax terkait peristiwa tersebut. Hoax yang beredar dimulai dari foto-foto mengenaskan dengan tiga jari terpotong hingga kabar CCTV di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) yang disebut tidak berfungsi.

Adalah akun Twitter @PartaiSocmed mengupas tuntas hoax seputar peristiwa pembacokan terhadap Hermansyah itu. @PartaiSocmed mengatakan, musibah yang menimpa Hermansyah seperti memang sangat dinantikan oleh pihak-pihak tertentu. Ia menyebutnya hal itu sebagai sebuah kekejaman.

"Kasus pembacokan yg dialami Hermansyah ini rupanya seperti sangat dinantikan dan dirayakan oleh pihak tertentu. Kejam ya? Memang kejam. Tapi itulah realita tentang mereka,” tulis akun @PartaiSocmed sebagaimana Proklamasi.co.id kutip pada Rabu (12/7/2017) pagi.

Bahkan, menurutnya banyak hoax terkait Hermansyah yang disebarkan untuk memojokkan pihak lain dengan harapan dapat memancing emosi publik hingga terjadi kerusuhan.

"Bahkan banyak hoax dibuat agar kasus Hermansyah bisa digunakan utk memojokkan pihak lain. Mrk sangat merayakan musibah yg dialami Hermansyah. Diawali dengan beredarnya foto2 palsu tentang kondisi tubuh Hermansyah yg diambil dari foto korban kriminal lainnya. Padahal foto2 korban yg mengenaskan dgn tiga jari yg terpotong itu bukan foto Hermansyah. Jari Hermansyah tidak terpotong,” tulisnya.

"Tujuannya apalagi jika bukan untuk mendramatisir situasi sekaligus memancing emosi publik. Syukur2 jika terjadi kerusuhan,” imbuhnya.

Hal tersebut membuktikan bahwa mereka sangat menikmati musibah yang dialami oleh Hermansyah. "Dari cara mereka yg seperti ini saja terlihat betapa mereka sangat menikmati musibah yg dialami Hermansyah. MANUSIA2 SAKIT!” tulisnya.

Setelah menyebarkan haox berupa foto, CCTV di sekitar TKP pun menjadi sasaran hoax. CCTV itu disebut sengaja dimatikan saat insiden tersebut terjadi.

"Dengan mudah mereka menyebarkan hoax bahwa CCTV di sekitar TKP tidak berfungsi. Dapat info dari mana kesimpulan ini? Dan lagi2 terbukti yg mereka sebarkan memang hoax. Ternyata rekaman CCTV-nya ada,” tulisnya.

Tuduhan tersebut, menurut @PartaiSocmed tujuannya untuk menfitnah aparat. Sehingga publik yang sudah termakan oleh hoax berupa foto yang menunjukkan tubuh korban pembacokan, akan langsung termakan juga oleh hoax soal CCTV dan akan menyalahkan polisi.

"Jika memalsukan kondisi tubuh Hermansyah untuk memancing emosi publik, maka tuduhan CCTV sengaja dimatikan untuk memfitnah aparat. Publik yg jadi emosi karena hoax yg pertama akan begitu saja memakan hoax kedua dan menyalahkan polisi,” tulisnya.

Untuk lebih memojokkan polisi, lanjut @PartaiSocmed, maka dibuat dan disebarkan hoax berikutnya. Kali ini dengan mengadu domba Polri vs TNI. Maka dibuatlah karangan bebas dengan modal foto dari google seolah ada penyusup hendak melukai Hermansyah di Rumah Sakit. Sehingga disebutkan TNI mengambil alih pengamanan Hermansyah. Namun, hal itu langsung dibantah oleh Puspen TNI.

"Masih percaya mereka bersimpati pada Hermansyah? Sejauh ini yg terlihat justru mereka memanfaatkan dan merayakan musibah yg dialaminya,” tulisnya.

Jadi siapa yg sesungguhnya diuntungkan dengan musibah yg dialami Hermansyah ini?

"Memang benar Hermansyah pernah menyampaikan bahwa bukti chat Rizieq-Firza adalah rekayasa. Tapi apakah itu penyebab kasus pembacokan yg dialaminya sekarang? BELUM TENTU!” tegasnya.

Menurutnya, ada banyak kemungkinan penyebab musibah yang dialami Hermansyah. "Banyak kemungkinan bisa menjadi penyebab kasus yg dialami Hermansyah itu. Mengapa memaksa skenario harus krn pembelaannya terhadap Rizieq?” tanya @PartaiSocmed.

Mengapa sampai memaksakan memproduksi berbagai hoax dan fitnah agar skenario Hermansyah dianiaya karena membela Rizieq jadi keniscayaan?” imbuhnya.

Ia pun meyakini hoax seputar Hermansyah masih akan terus diproduksi oleh pihak-pihak tertentu. Namun demikian, ia yakin publik dapat memfilternya.

"Setelah ini pun kemungkinan hoax2 lain seputar kasus Hermansyah masih akan mereka produksi dan sebarkan. Tapi kita sudah jadi lebih waspada sekarang. Kita tahu sedang berurusan dengan kanibal yg rela memakan bangkai sesamanya,” pungkasnya.

Diketahui, Hermansyah menjadi korban pembacokan di Tol Jagorawi KM 6, Jakarta Timur pada Minggu (9/7/2017) dini hari. Saat itu, korban bersama istrinya Irina menaiki mobil Toyota Avanza warna putih, melintas di Tol Semanggi ke arah timur untuk pulang ke rumahnya di Depok.

Saat itu, mobil korban yang berada di belakang sebuah bus tiba-tiba disalip oleh mobil Honda City yang ditumpangi tersangka Edwin dan menyerempet mobil korban. Korban tidak terima, kemudian terjadi kejar-kejaran dan pepet-pepetan.

Memasuki Tol Jagorawi sekitar KM 7, Edwin menghadang mobil korban. Selanjutnya, korban dan Edwin sama-sama turun dari mobil dan terjadilah percekcokan di sana.

Di saat bersamaan, tiga rekan Edwin yang menggunakan mobil Toyota Yaris yang salah satuny adalah tersangka Laurens datang dan menghampiri. Laurens yang saat itu menbawa senjata tajam, lalu menusuknya.

Korban kemudian ambruk. Sementara para pelaku melarikan diri usai melakukan penusukan tersebut. Irina kemudian membawa suaminya itu ke RS Hermina, Depok.