Penguatan Moral Pancasila Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Featured

Rabu, 27 September 2017 08:29
Penguatan Moral Pancasila Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Nanag Qosim
PROKLAMASI.co.id - Demi ketertiban dan konsistensi kebangsaan dibawah naungan Pancasila, maka apapun bentuk paham yang berindikasi komunisme harus dihancurkan sampai keakar-akarnya, sebagai wujud kepedulian terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
 
Demikian disampaikan oleh Koordinator Apel Akbar Melawan Kebangkitan Komunisme di Indonesia, Nanang Qosim, yang rencana digelar pada Jumat (29/9/2017).
 
 Pengalaman pahit bersama komunisme, lanjut Nanang, sudah pernah dirasakan. Pembantaian, rencana kudeta, dan penculikan serta pembunuhan merupakan wujud dari perjuangan komunis. Karena itu, aliansi organisasi kepemudaan, mahasiswa,pelajar, Organisasi Kemasyarakatan  Indonesia yang anti Komunisme mengingatkan kembali bahwa komunisme pernah jadi sebuah ideologi pembantaian di muka bumi.
 
“Kami belum lahir di kala peristiwa G30S PKI terjadi, namun kami seperti merasakan kepedihan dan ketakutan yang dirasakan oleh bangsa Indonesia terhadap komunisme”. Jika faham komunis tumbuh bebas dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maka sangat besar kemungkinan akan terjadi kembali tindakan represif terhadap negara dan terhadap pihak yang tidak sepaham dengan mereka," kata Nanang dalam press release yang diterima redaksi pada Selasa (26/9/2017) malam.
 
Kudeta gerakan 30 September 1965 merupakan sebuah peristiwa tragis. Itulah salah satu catatan sejarah kelam kekejaman PKI di Indonesia dengan menghalalkan berbagai cara, termasuk intimidasi, pembantaian, penjarahan, penculikan, penyesatan informasi dan adu domba untuk mewujudkan tujuan komunisme.
 
PKI, lanjut Nanang, pernah melakukan pembunuhan santri, kyai, dan militer di Indonesia. Bukti yang perlu terus diingatkan untuk menghindari tindakan memberi ruang kepada komunisme muncul kembali, dan menghindari pembiaran ajaran komunis hadir kembali di Indonesia. Pembiaran komunisme hadir kembali merupakan tindakan yang tidak bisa dimaafkan. Bangsa indonesia yang santun, bertata krama, hormat-menghormati dan saling menghargai tidak dapat menerima komunisme. 
 
"Selama ini, kegiatan atau acara yang berindikasi membangkitkan kembali komunisme di Indonesia sering dilaksanakan. Baru-baru ini di LBH Jakarta dilaksanakan Seminar Sejarah 1965, dengan tema “Pengungkapan Kebenaran Sejarah 1965”. Tahun yang lalu juga pernah terjadi tuntutan melalui pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk meminta maaf terhadap PKI," ujarnya.
 
Oleh karena itu, Forum Umat Islam Bersatu FUIB, Barisan Garuda Pancasila (BGP) dan Ormas Anti komunisme mengingatkan kepada seluruh lembaga negara, Institusi Pemerintahan, dan Elemen Bangsa Indonesia, untuk tidak mendukung dan terlibat dalam kegiatan apapun yang berindikasi komunisme.
 
Pancasila sebagai ideologi dan falsafah berbangsa dan bernegara sudah terbukti berhasil, dan pancasila telah membangkitkan semangat kesatuan dalam mengusir dan menghancurkan berbagai bentuk ideologi trans nasional dan komunisme. Tidak ada satu pihakpun yang berhak menggantikan idiologi bangsa. Apalagi faham-faham yang sudah terbukti pengkhianatannya terhadap bangsa dan negara indonesia.