Setara Nilai Gatot Jadi Teladan Buruk Bagi Prajurit TNI Featured

Senin, 25 September 2017 14:01
Setara Nilai Gatot Jadi Teladan Buruk Bagi Prajurit TNI Panglima TNI Gator Nurmantyo
PROKLAMASI.co.id - Isu pembelian 5.000 pucuk senjata oleh institusi non-militer yang dilontarkan Panglima TNI dalam sebuah rekaman yang tersebar luas di media sosial, terus menuai kecaman dari sejumlah pihak. Salah satunya dari Setara Institute, Hendardi.
 
Menurut Hendardi, Gatot saat ini tengah mencari perhatian publik untuk menaikkan posisi tawar politiknya. Bahkan, kata Hendardi, pernyataan Gatot itu telah melanggar kepatutan dengan mengumbar informasi intelijen.
 
"Karena penyampaian informasi intelijen di ruang publik juga menyalahi kepatutan," ujar Hendardi, Senin (25/9/2017).
 
Hendardi juga menyinggung pernyataan Gatot yang akan menyerbu institusi lain jika rencana pengadaan 5.000 senjta api itu dilanjutkan. Menurutnya, ancaman itu sudah merupakan pelanggaran serius atas Pasal 3 dan Pasal 17 UU 34/2004 tentang TNI yang mengatur kebijakan pengerahan dan penggunaan kekuatan angkatan perang menjadi kewenangan presiden.
 
Lebih jauh, Hendardi menilai Gatot menjadi teladan buruk bagi prajurit TNI yang selama ini didisiplinkan untuk membangun relasi kuat dan baik dengan Polri akibat tingginya frekuensi konflik antar-dua institusi itu.
 
"Alih-alih menjadi teladan, Panglima TNI justru membawa prajurit TNI dalam konflik kepentingan serius yang hanya menguntungkan diri Panglima TNI," katanya.
 
Hendardi menambahkan, upaya Gatot mencari perhatian bukan hanya dengan melempar isu soal pembelian 5.000 senpi oleh institusi nonmiliter. Sebab, Gatot juga getol melontarkan pernyataan yang bernada permusuhan dan destruktif, termasuk soal pemutaran film Pengkhianatan G 30 S/PKI.
 
"Panglima TNI bermanuver dengan mencari musuh-musuh baru, bukan untuk tujuan kepentingan bangsa tetapi untuk kepentingan politik jangka pendek bagi dirinya," ungkapnya.
 
Sebab itu, Hendardi menyarankan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar lebih berhati-hati lagi dalam mengambil sikap atas Panglima TNI. Sebab, Gatot sedang mencari momentum untuk memperkuat profil politik bagi dirinya.
 
"Sehingga cara-cara politik yang tidak etis yang sedang diperagakannya secara perlahan menjadi layu sebelum berkembang," pungkasnya.