Rabu, 19 Juli 2017 09:25

Pandangan Ahlul Bait Indonesia: Akar dan Bahaya Radikalisme Islam di Indonesia Featured

PROKLAMASI.co.id -- Islam politik belakangan ini menampakkan wajahnya yang radikal. Terutama setelah Pilkada DKI Jakarta, ruang publik politik dipenuhi oleh suara-suara keras dari beragam organisasi kemasyarkatan (Ormas) Islam yang selama ini dikenal radikal dan ekstrim. Salah satu ciri mereka adalah, menegaskan perbedaan antara yang muslim dan yang kafir.

Ayat-ayat suci diumbar, untuk sekadar melarang yang muslim memilih yang kafir dalam segala jabatan politik, dari gubernur, bupati, mungkin juga ketua RT. Yang kafir harus tunduk di bawah pengaturan yang muslim. Itulah kehendak mereka.

Tak hanya itu, sebagian mereka punya tujuan lebih. Selain menghadang yang kafir, juga ingin mengubah dasar dan bentuk negara. Mereka ingin mengubah pancasila dan NKRI menjadi negara khilafah yang berdasarkan syariat Islam.

Celakanya, para pengusung khilafah ini menyebut semua orang yang menolak perjuangan mereka sebagai kafir. Bahkan yang muslim, kalau tak mendukung khilafah, juga dimasukkan dalam kategori kafir. Inilah yang disebut sebgai gerakan takfiri. Ormas yang gemar mengkafirkan orang lain.

Ormas ini membuat pemerintah khawatir, sehingga mengeluarkan Perppu 2/2017 tentang organisasi kemasyarakatan. Pemerintah merasa, ormas ini harus dibubarkan sebelum terlambat. Kalau tidak, mereka akan melakukan kudeta, seperti telah dilakukan di negara lain.

Dari gerakan mereka, Islam lalu nampak keras. Gerakan ini juga memicu debat tak berkesudahan di antara orang Islam sendiri. Banyak Ormas Islam tak setuju gerakan mereka, meski ada juga ormas yanag setuju dan mendukungnya.

Pertanyaannya adalah benarkah Islam pada dirinya sendiri radikal? Kenapa banyak aliran dalam Islam? Bagaimana gerakan radikal dan takfiri ini muncul? Dan bagaimana pula masa depan gerakan radikal ini di Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan itu, redaksi proklamasi mewawancarai Sekretaris Jenderal Ahlul Bait Indonesia (ABI), Ahmad Hidayat, di kantornya Jl. Kemang Utara IX No.35 Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Ahlul Bait Indonesia (ABI) adalah salah satu ormas Islam yang menerapkan mazhab Syiah di Indonesia. Ormas ini berkomitmen untuk merawat ajaran Islam yang diwarisi dari nabi dan keluarganya (ahlul bait).

Berikut wawancaranya:

Islam radikal seperti mendapat momentum belakangan ini. Ruang publik dipenuhi suara mereka. Ini  memicu pertentangan antar ormas Islam sendiri. Bagaimana anda melihat ini?

Islam ini hanya satu. Karena sama, Tuhan yang satu. Nabi sama, percaya semua nabi dan rosul yang pernah diutus. Percaya agama samawi, percaya al Quran, kiamat, percaya ada takdir. Islam hanya satu. Yang banyak perspektif, tafsir terhadap konsep dasar dari agama Islam.

Tuhan yang satu ditafsir dalam pandangan yang berbeda. Lahirlah ilmu kalam. Yang melahirkan sekte-sekte dalam Islam, salafi, maturidi, jabariah, muktazilah, dan lain sebagainya. Itu berbicara satu hal saja.

Karena Islam dilihat dalam perspektif berbeda, suka gak suka, melahirkan ikutan yang panjang. Sayangnya, semakin jauh rentang sumber diskursus awal dengan pengikut, semakin besar deviasinya. Karena sebagian berbicara tak lagi merujuk pada sumber awal.

Atau yang kedua, sang tokoh sekian tahun sebelumnya menemukan temuan baru, bisa jadi bertentangan dengan kelompok sebelumnya. Dan itu diikuti banyak orang. Satu induk yang sama tapi melahirkan banyak paham. Islam seperti itu.

Sejak kapan Islam terpecah?

Secara umum Islam mulai terbelah setelah nabi meninggal. Lalu ada dua kelompok besar muncul, kelompok keluarga nabi atau ahlul bait, kedua, sahabat nabi. Kelompok pertama meyakini nabi menunjuk penggantinya, sementara kelompok kedua tidak. Kelompok pertama penunjukan, kedua musyawarah. Dari sinilah beranak pinak.

Biarlah itu kisah masa lalu. Tapi kita meyakini, dua kelompok ini lahir dari induk yang sama. Problemnya, bukan semata soal politik. Karena seringkali dipahami kepemimpinan dipahami politik saja. Syiah memahami bahwa menerima dan meyakini bahwa nabi menunjuk pengganti itu bagian dari sistem keyakinan. Bagian dari prinsip iman.

Banyak ayat yang menjadi rujukan. Bahwa apa saja yang datang dari nabi, terima. Karena itu, menerima dari apa yang diberikan nabi bagian dari iman.  Ini disebut kelompok ahlul bait. Disebut syiah karena pengikut Ali. Syiah itu artinya pengikut. Kelompok kedua disebut ahlussunnah wal jamaah.

Syiah meyakini, pemimpin pengganti nabi itu, 11 pemimpin sesudahnya, bahkan sudah disebutkan oleh nabi. Nabi sudah tahu bahwa si fulan, cucu saya ini, jadi pemimpin. Jadi mereka ini sudah diberi nama oleh nabi. Karena nabi ini utusan akhir zaman.

Karena itu, nabi peripurna membawa Islam. Keparipurnaan itu memastikan bahwa seluruh peristiwa yang terjadi, sebagaimana diyakini, Islam mendahului zaman, bukan mengikuti. Kalau Islam mengikuti zaman, Islam akan gagal. Nanti bisa dipilintir-plintir. Makanya Islam itu mendahului zaman.

Jadi begitu, Islam itu satu. Dan perbedaan itu pun berinduk pada sumber yang sama. Dalam Syiah, kekafiran itu hak Tuhan. Karena itu, Syiah selalu menahan diri untuk melakukan itu. Karena itu prerogatif Tuhan. Nabi juga sering mengigatkan, hati-hati jangan sembarang mengkafirkan orang, bisa jadi kekafiran itu berbalik pada dirimu.

Kenapa, karena baik Sunni maupun Syiah, sama-sama berkeyakinan bahwa kita tidak bisa menghukum hati orang, kita hanya bisa menghukum yang tampak saja. Kalau orang mengatakan Islam, jangan paksa dia bukan Islam. Kalau dia pura-pura itu urusan dia dengan Tuhan. Kita gak boleh menghukum apa yang ada dalam pikiran dan hati orang. Kecuali orang bersangkutan dengan jelas sudah menyatakan saya bukan muslim dan menolak Tuhan. Itupun kita tetap harus adil kepadanya. Bahkan tumbuhan dan hewan, dan apa saja yang ada di semesta ini wajib diperlakukan adil.

Fenomena pengkafiran itu marak belakangan ini, bagaimana tanggapannya?

Sebetulnya fenomena itu sudah lama. Tapi kemudian mendapatkan legitimasi dari pernyataan sejumlah tokoh, ulama tertentu yang dijadikan rujukan oleh mereka. Bahkan kalau kita lihat sejarah khawarij, mereka ini kan merujuk al Quran, siapa yang tidak berhukum pada hukum Allah maka dia kafir. Khawarij ini muncul setelah perang Siffin. Perang antara pasukan Ali dan Muawiyah. Waktu itu ada penipuan dari Muawiyah, seteah mereka terdesak, mereka mengangkat al quran dengan tombak, tiba-tiba muncul kelompok lain yang menolak artibrase perdamaian ini. Lalu mereka merujuk pada ayat itu, siapa yang tidak berhukum pada hukum Allah maka dia kafir. Dan kelompok merekalah yang lalu membunuh Ali, dalam keadaan salat subuh. Malam kesembilan belas Ramadhan. Ali jadi imam di masjid kuffah, setelah sujud kepelanya ditebas, oleh orang yang sering tahajud, jidatnya hitam. Mungkin juga puasa Senin Kamis. Tapi karena Ali dikafirkan oleh mereka, maka dihalalkan darahnya.

Jadi kelompok ini ketika menjatuhkan kekafiran kepada kelompok lain, mereka menghalalkan darahnya. Itu baru 30 tahun nabi meninggal dunia, sudah muncul kelompok begini. Begitu ekstrim dalam menafsirkan agama, sesuai kehendaknya.

Nah ini sebenarnya terkait dengan otoritas. Jadi menafsirkan agama itu harus berdasarkan otoritas. Tapi walaupun punya otoritas itu juga belum cukup, otoritas itu dijamin oleh siapa? Karena sekarang banyak yang punya otoritas tapi karena berafiliasi dengan kelompok tertentu, lahirah fatwa-fatwa yang diproduksi untuk melindungi kepentingan kelompok tertentu.  Itu berbahaya.

Di Iran itu, yang punya otoritas itu namanya Wilayatul Faqh. Dan seluruh pandangan keagamaan merujuk kesana. Kalau di Indonesia bagaimana? Siapa yang jadi imam?

Jadi kalau dalam Syiah, runut. Kita meyakini wali tertinggi adalah Allah. Wilayah ini diwariskan kepada wakil-wakilnya melalui nabi dan rasul. Setelah nabi wafat, perwalian diserahkan kepada orang yang dipastikan kualifikasinya suci sama dengan nabi. Syiah meyakin 12 orang itu suci. Tidak pernah dosa.

Nah, nabi dalam tradisi Syiah, pernah bersabda: sepeninggal kami, nabi menunjuk kami itu dengan 12 imam, dan di tengah kegaiban imam mahdi, agama berada di tangan fuqaha. Maka sepanjang sejarah, sebelum imam terakhir ghaib kubro, dia sudah memiliki empat orang wakil. Empat orang wakil inilah yang jadi perantara, umat dengan imam. Inilah yang disebut para fuqaha. Tradisi ini berkembang selama seribu tahun lebih. Orang faqih fuqoha itu adalah orang yang paham seluk beluk hukum agama secara persis. Jadi gak bisa menerka-nerka.

Dalam Syiah, tradisi fuqoha itu terwariskan dari generasi ke generasi selanjutnya. Karena itu Syiah gak pernah kosong dari kehadiran fuqoha. Sampai pada zaman imam khomaini, khususnya di Iran, imam khumaini melembagakan menjadi wilayatul faqih. Jadi imam Khumaini melembagakan. Fuqoho dan wilayatul faqih itu dua hal yang berbeda.  Kalau fuqoha itu, orang yang dirujuki atau marja’, dalam urusan keagamaan, di dunia Syiah sekarang ini mungkin ada sekitar 20an orang. Seluruh dunia.

Yang memilih 20 orang itu siapa?

Ada lembaga pendidikan. Persis seperti anda mau jadi sarjana apa. Anda diuji oleh institusi di atasnya. Jadi saya layak disebut faqih setelah diakui oleh dua fuqaha senior.

Tidak cukup, dia harus menyusun disertasi terkait semua persoalan agama. Disebut risalah amali. Orang misalnya, yang mau belajar agama dan mau mempraktikkan, mau merujuk ke saya, maka dia wajib mempelajari disertasi saya. Risalah amaliah yang saya susun. Dari urusan toharoh sampai muamalah.

Di Indonesia?

Belum ada fuqoha di Indonesia. Kalau mujtahid ada, tapi belum sampai ke level marja’, atau yang diikuti. Jadi ada imam, terus ada marja, di bawah marja ada mujtahid, dibawahnya ada mukhtad, dibawahnya ada mukallid.

Mukhtad itu adalah orang yang belajar agama tapi belum bisa melakukan istinbat hukum. Di atas mukhtad itu mujtahid, ini sudah bisa melakukan istinbat hukum. Tapi karena dia belum diakui oleh dua pemilik otoritas di atasnya, juga belum produksi buku, maka dia tidak boleh diikuti. Tapi sudah bisa istinbat hukum, untuk dirinya. Nggak boleh orang lain ikut. Di bawahnya awam, mukallid. Yang bukan mukhtad wajib ikut sama marja.

Jadi struktur beragama orang syiah itu diketahui betul-betul. Saya tidak boleh dengan enak, jangankan mau mengambil hak Tuhan, untuk mengatakan anda kafir, terlalu jauh. Ini untuk menentukan hukum, bagaimana caranya salat, saya tidak berani. Saya salat bersama anda, terus saya katakan salat anda salah, siapa saya. Itu gak boleh terjadi.

Di Indonesia juga begitu, bermarja. Tapi dalam urusan keagamaan. Saya punya imam, imam saya imam mahdi, dengan 12 imam, dalam urusan keberagamaan saya, saya mengikut imam ali khumaini, dalam urusan kegamaan ya, dia sebagai marja, yang saya rujuki, dia punya disertasi, saya pelajari, ada yang tak bisa dimengerti saya tanya lanagsung, dia punya tim, milis dan website, dan langsung dijawab.

Nah apakah tunduk secara politik? Tidak. Saya diperintah tunduk ke negara saya. Karena konsep wilayatul faqih itu hanya berlaku di Iran. Yang boleh ikut warga Iran saja. Saya ikut sama dia dalam urusan agama saja. Persis misal anda ikut pemahaman ekonomi Amerika, itu kan bermarja ke sana.

Bukankah tadi dikatakan soal kepemimpinan itu bagian dari aqidah?

Begini. Syiah itu meyakini, sebagaimana al Quran sebutkan bahwa negara bangsa itu ada. Sampai al quran itu sebutkan qobail, qobaila lita’arafu. Ayat ini mengakui eksistensi negara bangsa.

Anda boleh ikut ritual ibadah ke marja, tapi urusan politik itu harus ikut konsensus politik di tempat anda tinggal. Nah urusannya adalah nilai. Bahwa ketika saya masuk politik praktis, nilainya saya ikut cara berpolitik yang diajarkan oleh marja’ saya.

Kedua, syiah ini diajari independen dalam beagama. Gak mudah diajak-ajak. Syiah diberi kemerdekaan. Bahkan bertuhanpun dibebaskan. Juga bebas mengikuti marja mana. itu hak individu untuk identifikasi sendiri. Gak bisa dipaksa-paksa.

Belakangan ini banyak muncul Islam takfiri. Misalnya HTI, yang dalam ceramahnya selalu bilang kafir bagi orang yang tak percaya khilafah. Bagaimana tanggapannya?

Ada banyak kelompok yang muncul dalam sejarah Islam ini diproduksi oleh kepentingan hegemoni global. Dalam rangka memecah kekuatan Islam yang oleh zionisme diyakini betul, ancaman utama adalah Islam. Hanya Islam yang secara faktual yang punya doktrin, bahwa Allah akan memenangkan Islam di akhir zaman. Ini yang ditakuti oleh zionis.

Nah janji itu kemudian diturunkan oleh yang mendesain ke arah negatif, untuk memcah belah Islam. Karena hanya dengan memecah belah Islam, dia bisa semena-mena. Timur Tengah porak poranda tak begitu saja. Itu didesain. Dan yang mendesain itu adalah zionisme. Hanya itu.

Saya hampir berkesimpulan, anda cari saja, kelompok radikal itu, itu bikinan Inggris dan Prancis. Sebagai sumbernya, zionisme. Anda tahu lahirnya Arab Saudi, itu didesain Inggris dan Perancis. Di belakangnya adalah zionisme.

Periode pertengahan 80, di Indonesia, baru muncul gerakan-gerakan ekstrim. Dari tahun 70an, Saudi membidik NU untuk diwahabikan. Dia sekolahkan anak-anak kiai, orang pesantren di Saudi. Tapi itu gagal. Mereka itu meski sekolah di sana, pulang-pulang malah nyerang wahabi. Kiai Aqil Siradj misalnya. Dua puluh tahun di Saudi, tapi malah nyerang wahabi.

Tapi setelah pertengah 80an, Saudi mengubah strategi. Dia main pungut saja, bukan lagi anak kiai atau pesantren. Non pesantren itu banyak disekolahkan di sana, terus pulang. Merekalah yang membangun Islam radikal ala wahabi.

Soal Pilkada DKI, seolah ini pertarungan Islam dan kafir. Bagaimana tanggapannya?

Seperti tadi, dasarnya kan ini transaksional. Belakangan baru ada klaim, bahwa si ini wakil Islam dan ini wakil kafir. Itu dasarnya transaksional. Jadi kita gak pernah melihat Anies itu wakil Islam dan Ahok wakil orang kafir.

Karena itu tadi, bangunan dasarnya transaksional. Tanpa bermaksud meragukan integritas Anies, kita gak yakin Anies benar-benar mewakili Islam. Islam sebagai ajaran ya, bukan umat Islam. Beda Islam sebagai ajaran, dengan umat Islam. Bisa jadi mewadahi aspirasi umat Islam, tapi umat yang mana? kita gak mau masuk ke sana.

Banyak pengamat predikis, Pemilu 2019 juga akan diwarnai politisasi agama. Bagaimana pendapat anda?

Saya sendiri khawatir, karena agama ini diseret seret. Korban terbesarnya adalah umat Islam itu sendiri. Lebih dari sekadar umat yang menderita, tapi agama ini akan jadi pecundang. Karena perilaku atas nama agama itu.

Saya bilang sama teman-teman wahabi itu, kalau cara dakwah kalian itu terus menerus, saya khawatir di masa depan kita kaget karena nanti tak ada lagi yang beragama Islam. Semua phobia sama Islam. Lihat sekarang dengan kasus Ahok dan Anies ini. Betapa banyak yang phobia terhadap Islam. Orang nyiinyir sama Islam. Baik umat Islam itu sendiri maupun non muslim.