Sabtu, 20 Mei 2017 14:50

Pelindung Kafir Laskar Anti Kafir Featured

“Jangan tersinggung ya, bagi saya, kitab suci saya adalah kitab HAM. Panduan saya. Saya berpegang pada kitab suci, saya tidak pernah takut. Tidak pernah merasakan terintimidasi,” begitu Natalius Pigai mengeluarkan pernyataan itu, semua terdiam, teriakan takbir yang bersahut-sahutan di ruangan itu terhenti sesaat, sebelum akhirnya komisioner Komnas HAM penganut agama Kristen Katolik itu melanjutkan kata-katanya. “Jangan pernah jadi komisioner Komnas HAM kalau takut dikritik, takut diintimidasi.”

Bersama dua komisioner lainnya, Ansori Sinungan dan Siane Indriani, siang itu, Jumat 19 Mei 2017, Natalius Pigai sedang menerima rombongan Presidum Alumni 212 yang dipimpin Ansufri Idrus Sambo di ruang pengaduan Komnas HAM. Ini kali kelima rombongan pendukung Habib Rizieq itu mendatangi Komnas HAM.

“Terimakasih, untuk kelima kalinya kami datang kesini. Semoga ini memberi dukungan ke Komnas HAM,” kata Sambo memulai aduannya.

Seperti pertemuan sebelumnya, aduan yang mereka bawa masih sama: kriminalisasi ulama. Kalaupun ada tambahan, kali ini mereka mengikutsertakan pengurus Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), ormas pengusung Khilafah yang mau dibubarkan oleh pemerintah.

Yang juga membedakan dari sebelumnya adalah jumlah massa. Setiap Jumat, jumlah yang datang terus bertambah. Kali ini, ada sekitar 300 massa yang datang. Ada yang berdemonstrasi di luar, ada yang sibuk dengan spanduk petisi, ada pula yang mendampingi pengurus presidum di ruang pengaduan.

“Kemarin kita bawa seribu tandatangan, hari ini sudah 10 ribu. Jadi bertambah terus. Ini memberi dukungan ke Tim Investigasi Komnas HAM. Karena kita dengar ada pengembosan, dari luar dan dalam. Makanya kita datang. Biar merasa Komnas ini didukung rakyat. Setiap Jumat kita datang terus bawa dukungan,” ucap Sambo diiringi takbir para jamaah.

Sepanjang pertemuan, kalimat takbir memang tak henti-hentinya diteriakkan. Begitu satu orang berkomandang ‘Allahu Akbar’, jamaah lainnya dengan lebih lantang mengulanginya. Sehingga, suasana pertemuan sangat ramai dan sesak.

Beberapa wartawan bahkan terpaksa harus desak-desakan di depan agar mendengar perkataan narasumber.

Meski seorang Kristen Katolik, Natalius Pigai sama sekali tidak risih dengan suasana itu. Ia tahu bagaimana menghormati tamu. Bahkan, ia membuka kata-katanya siang itu dengan salam khas muslim “Assalamu’alaikum”. Tak tanggung-tanggung, ia mengulangi salam itu sampai tiga kali.

Para ustadz dan jamaahnya nampak sumringah saat Pigai mengucapkan “Assalamu’alaikum.” Tak peduli mereka pernah menyerang seorang kristen sebagai kafir yang tak boleh dijadikan pemimpin dan pelindung sebagaimana tafsir Q.S. Almaidah 51 yang mereka anut, kali ini, bagi mereka, Pigai benar-benar tampil sebagai sosok pelindung yang mereka harapkan.

Di antara komisioner yang menemui mereka, Pigai-lah yang paling banyak mendapat perhatian. “Kami beri dukungan, khususnya Pak Pigai, yang katanya mau dimakzulkan. Kita beri dukungan. Kita backup. Jangan takut,” kata Sambo selaku Ketua Presidium Alumni 212.

Sambo dan pengurus presidium lainnya juga tidak segan meminta langsung kepada Pigai untuk bersedia memenuhi undangan Habib Rizieq ke Madinah. Dengan pergi ke Madinah, mereka berharap, Pigai makin mantap menjadi pelindung Habib Rizieq. Kebetulan, Pigai memang vokal mengkritik aparat penegak hukum dan pemerintah.

“Apakah komnas harus ke Madinah untuk ketemu Habib Rizieq? Kami bicarakan dengan komisioner dan ketua. Dari sisi finansial tak mungkin. Kemenku, belum turun dananya,” kata Pigai.

Pernyataan Pigai itu langsung disambut oleh mereka dengan tawaran dana. “Kami akan saweran untuk mendanai itu?” kata mereka. “Gak boleh. Kami dilarang keras menerima uang. Serupiahpun. Itu haram,” jawab Pigai.

“Kami sedang bekerja secara profesional. Nanti surat tertulis kami sampaikan. Juga bisa lewat skype. Informasi bisa langsung bisa tak langsung,” kata Pigai, menambahkan.

Kuasa hukum Presidum Alumni 212 Achmad Michdan menilai, keengganan komisioner Komnas HAM bertemu Habib Rizieq di Madinah karena ada perpecahan di tubuh komisioner Komnas HAM. “Kalau beberapa komisioner tak setuju bertemu dengan beliau (Habib Rizieq, red.),  haru diatasi. Kita gak mau ini jd masalah internasional. Kita gak mau Indonesia dipermalukan,” kata Michdan.

Menurutnya, Habib Rizieq akan membawa persoalan ini ke dunia internasional. Dalam waktu dekat, Rizieq dikatakan akan membawa tim pengacara ke Mahkamah Internasional di Den Haag dan PBB di Jenewa.

Pigai, dan komisioner lain yang menemui mereka siang itu, tak menanggapi rencana Habib Rizieq yang akan mengadu ke Mahkamah Internasional dan PBB, yang notabene diisi oleh orang-orang kafir, seperti Pigai. Dan juga Ahok, orang kafir yang mereka tolak jadi pemimpin saat Pilkada DKI Jakarta.

Yang menjadi perhatian komisioner Komnas HAM, kata Pigai, adalah memastikan bahwa setiap aduan akan dikerjakan sebaik-baiknya. Tak peduli rintangan dan halangan, bahkan intimidasi. Meski ia dianggap kafir oleh sang pengadu, Pigai menegaskan “Jangan tersinggung ya, bagi saya, kitab suci saya adalah kitab HAM. Panduan saya. Saya berpegang pada kitab suci, makanya saya tidak pernah takut. Tidak pernah merasakan terintimidasi.”