Jumat, 19 Mei 2017 12:53

Strategi Pemerintah Lawan Manuver Mafia Pangan Featured

PROKLAMASI.co.id – Jelang Ramadan dan Lebaran, pasar biasanya bergejolak. Stok langka dan harga-harga bahan pokok naik. Namun, tahun ini pemerintah menjamin gejolak menahun itu tidak akan terjadi lagi.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, semua bahan pokok stoknya aman dan harganya stabil. Stok pangan di gudang-gudang milik Perum Bulog saat ini melimpah. Stok bahan pokok ini masih bisa mencukupi kebutuhan nasional hingga Idul Adha, September mendatang.

“Sekarang rata-rata Bulog stoknya lebih dari 8 atau 9 bulan. Jadi kita enggak ada soal dan sampai dengan Juli dan dengan Agustus aman dan sampai Idul Adha lah,” katanya di Gudang Bulog Divre DKI Jakarta, belum lama ini.

Ketersediaan stok ini, kata dia, membuat harga stabil. Dia mengatakan pemerintah terus berkomitmen menjaga stabilitas harga pangan, terutama saat momen puasa dan lebaran. Pemerintah juga sudah mengkaji, beberapa komoditas yang rentan kenaikan harganya diantisipasi dengan berbagai strategi.

Pertama, memastikan stok aman. Dalam hal ini, bersama Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Mendag sudah mengecek langsung ke gudang-gudang, baik gudang produsen maupun gudang distributor. Dari hasil pengecekan itu, Mendag memastikan, stok untuk semua bahan pokok aman.

Kedua, Mendag mengeluarkan kebijakan agar semua distributor, sub distribor, dan agen wajib daftar. Tak hanya itu, mereka juga wajib memberikan informasi stoknya.

"Distributor dan agen wajib mendaftarkan diri, tanpa dipungut biaya, dan bisa online. Mereka juga wajib melaporkan posisi stok barang," kata Enggar.

Sejauh ini, kata Enggar, stok yang ada sudah di tangan pemerintah dan dalam posisi siap sedia untuk minyak goreng sebanyak 1,5 juta liter, gula dari Bulog sebanyak 460.000 ton, beras sebanyak 2,1 juta ton, dan daging sebanyak 90.000 ton.

"Ketika misalnya ada kelangkaan, bisa dicek dengan mudah. Itu bisa karena kita bergerak bersama dengan kepolisian, dan kita tahu siapa yang bermain," ujar dia.

Ketiga, bersama kementerian lain dan Polri, membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pangan. Satgas pangan dibentuk setelah dilakukan koordinasi antara Kepolisian Republik Indonesia, Kementerian Pertanian, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan, dan Bulog pada di Mabes Polri, Jakarta, Rabu,3 Mei 2017.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan, tugas satgas tersebut adalah mengawasi distribusi bahan pangan. Hal itu mengingat masih banyaknya ditemukan praktik spekulan dan kartel yang kerap membuat harga naik terutama memasuki bulan puasa dan lebaran.

“Kami akan melakukan langkah preventif baik di tingkat pusat maupun daerah,” ujar Tito kepada media di Jakarta, Rabu, 3 Mei 2017, lalu.

Dengan Satgas Pangan, para spekulan dan mafia pangan tidak akan berani melakukan penimbunan. Ditambah, semua distributor, sub distribuotr, dan agen sudah diwajibkan mendaftar. Sehingga, semua jalur distribusi bahan pokok sudah terdeteksi oleh pemerintah.

Lebih tegas, Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Syarkawi Rauf, dengan Satgas itu, Pihaknya tidak akan segan menindak siapapun yang mencoba memainkan harga di pasar. Menurutnya, semua stok sudah aman. Jika masih ada kenaikan harga, berarti ada permainan oleh mafia. Rauf memastikan, permainan itu pasti terdeteksi dan akan ditindak tegas.

“Ketika ada yang berusaha mencari keuntungan lebih akan kami tindak tegas. Kita sudah buat Satgas bersama pemerintah, maka kalau ada yang main-main dengan harga maka akan di tindak,” katanya.

Pengamat ekonomi dari Institut for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati, mengapresiasi langkah cepat dari pemerintah membentuk satuan tugas untuk menjaga kondisi harga pangan di pasar. Selain melakukan pengawasan harga dan ketersediaan sembako, Satgas Stabilisasi Harga Pangan ini juga bertugas melakukan penegakan hukum terhadap kartel dan mafia pangan.

“Kita apresiasi ada langkah cepat dari pemerintah membentuk Satgas Stabilisasi Harga Pangan di pasar, tetapi Satgas ini harus bekerja cepat karena terus berpacu dengan para mafia pangan,” kata Enny.

Saat ini, Satgas Pangan sudah bekerja efektif, termasuk di daerah. Di Kota Pekanbaru misalnya, Satgas menyegel delapan gudang di Jalan Soekarno-Hatta, Pekanbaru, karena diduga melakukan penimbunan sejumlah kebutuhan bahan pokok.

Kepala Bidang Humas Polda Riau Kombes Pol Guntur Aryo Tejo menyebut penyegelan ini dilimpahkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Pekanbaru pada Kamis pagi, 18 Mei 2017.

"Pelimpahan itu tengah diselidiki Satgas Pangan yang telah dibentuk Polda Riau dengan Pemerintah Daerah," ucap mantan Kapolres Pelalawan ini, Kamis siang.

Contoh lain di Surabaya. Satgas Pangan berhasil melakukan pengungkapan produksi abon oplosan. Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin mengatakan, pengungkapan ini sekaligus peringatan kepada semua mafia pangan untuk tidak main-main, baik dengan harga maupun tindakan lain yang merugikan masyarakat.

"Ini adalah hasil operasi tim satgas pangan seperti yang telah diinstruksikan Kapolri. Kami tindak lanjuti pada jajaran, dan ini adalah sebagian hasilnya, di TKP lain juga ada," ujar Machfud.

Atas kerja-kerja Satgas si berbagai daerah itu, Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia Komjen Pol Syafruddin menyampaikan apresiasinya. Dengan satgas ini, kata dia, masyarakat bisa menjalankan ibadah puasa tanpa dibebani harga-harga yang tinggi.

"Menjelang Ramadan satgasnya akan kami tingkatkan dua kali lipat untuk mengakuratkan investigasi di lapangan agar masyarakat tidak dirugikan akibat permainan harga," kata dia.

"Kami jamin lancar," imbuhnya. (SUM)